">

Jumat, 18 Desember 2015

Metode Tepat Restorasi Sungai Kota Banjarmasin

Sugih kita barataan mun sungai terkelola:

Refleksi akhir tahun untuk restorasi sungai di Kota Banjarmasin

 

oleh Sri Naida, SSi, MPA

Alumni FABIOGAMA/ Seknas Jokowi Kalsel

 

Dipenghujung tahun 2015 Kota Banjarmasin mendapatkan kado manis yaitu memperoleh Penghargaan Adipura dan  juga hasil Pilkada masyarakat sudah menentukan pilihan terhadap pimpinan baru yaitu Walikota dan Wakil walikota terpilih. Dalam sebuah diskusi coffee morningpada bulan November lalu bersama LSM dan Media tentang Revitalisasi sungai, bahwa para kandidat Pilkada Kota Banjarmasin sepakat untuk mengedepan tata kelola sungai (river governance) untuk mensejahterakan masyarakat. 

 

 

Hendaknya penghargaan Adipura dapat membuka pikiran, perbuatan/prilaku dan keputusan yang strategis agar tidak lagi memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan akhir (tpa)Dengan terpilihnya Walikota dan Wakil Walikota, maka tugas pimpinan terpilih berikutnya adalah memastikan tata kelola sungai dalam tempo sesingkat-singkatnya yaitu: 1) dapat mengembalikan fungsi sungai dengan teknologi yang tepat dan, 2) melaksanakan revolusi mental untuk memelihara sungai, agar masih ada Adipura lagi ditahun berikutnya.

 

Pemerintah Kota Banjarmasin bersama masyarakat telah melaksanakan revitalisasi bantaran sungai dengan memindahkan pemukiman kumuh pinggiran sungai, melalui kompensasi penggantian atas lahan yang dipindahkan, dan masyarakat dapat pindah menuju pemukiman baru yang lebih layak. Selanjutnya Pemkot berupaya memperbaiki bantaran sungai dengan berbagai teknologi bertujuan menguatkan bantaran sungai yang sudah rumbih/ erosi atau adanya pendangkalan/ sedimentasi sungai.

 


Sungai adalah urat nadi kehidupan masyarakat baik untuk kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, bahkan berfungsi politis karena menjadi perdebatan kandidat untuk menarik perhatian masyarakat, meskipun bantaran sungai banyak yang rusak dan kualitas air sudah tidak layak digunakan atau hampir semua sungai Kota Banjarmasin sudah tercemar bakteri Escherichia Coli (E.Coli)

 

Salah satunya adalah sungai di sepanjang jalan Veteran hingga sungai Lulut yang mengalami kerusakan parah, lebar sungai mengecil, terjadi sedimentasi, air sungai tidak mengalir, menimbulkan polusi bau dan juga pemandangan tidak nyaman. Padahal pada tahun 1980an aliran sungai di jalan veteran ini memiliki debit air tinggi, sungai berarus dengan lebar sungai lebih dari 10m. 

 

Masa kecil penulis sendiri, hampir setiap hari berenang di sungai depan komplek Halim. Pada saat air pasang baik siang atau sore hari, banyak sekali varietas ikan seperti ikan lundu, otek, baung, , kepiting dan lainnya. Pada bagian sempadan sungai melimpah tanaman paku-pakuan merah, kangkung merah, buah rambai bahkan tanaman galam minyak kayu putih. Setelah kelelahan berenang, naik mandi, agar tak masuk angin maka ambil daun galam minyak kayu putih dan diremas keluar minyak atsiri berbau khas, lalu mengoleskannya ke badan, badan terasa hangat, tanpa harus membeli minyak kayu putih kemasan. Sedangkan Ikan-ikan dapat di tangkap dengan alat tangkap sederhana (jaring plastik lebar) dan pancing masih bisa di bawa pulang dan di masak. Begitu jua tanaman paku merah atau kangkung merah dapat diambil gratis dan dalam jumlah besar. Bagi anak-anak dimasa itu, apabila ingin mendapatkan uang lebih dapat mengumpulkan ikan atau sayur dan menjual pada tetangga yang berminat sehingga suka ria anak-anak berenang dan mendapatkan uang menjadi pengalaman luarbiasa dan tak terlupakan.

 

Sungai terdiri dari banyak komponen yang saling berhubungan dan berpengaruh satu sama lain, yaitu bentuk alur (river bed form), morfologi sungai (river morphology), dan ekosistem sungai (river ecosystem)Sehingga dalam melakukan pengerasan bantaran sungai hendaknya dapat menggunakan teknologi yang tepat dan fungsional. Salah satu contoh yang dilaksanakan Pemerintah Kota Solo pada saat pemerintahan walikota Jokowi adalah melakukan restorasi sungai. Restorasi sungai dengan pemanfaatan tekonologi bioengineering atau rekayasa biologi dan teknik hidrolika murni (betonisasi). Metode ini secara integratif memadukam vegetasi riparian (tanaman pinggiran sungai) dan teknik beton, pengerukan sungai sampai kedalaman tertentu, mengalirkan arus air, dan mengembalikan bantaran sungai sesuai bentuk kelok sungai(meander). Hasilnya bantaran sungai Bengawan Solo lebih stabil, tahan erosi dan hijau royo-royo dikarenakan ditanami vegetasi riparian yang tepat. Dampak nyata adalah mengurasi erosi pada saat banjir dan retensi air pada saat musim kemarau.

 

Vegetasi riparian yang dimaksud adalah vegetasi endemik yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Banjar dan sudah terbukti dapat menahan erosi bantaran sungai. Sebut saja tanaman Rengas (Gluta wallichii), Bakau (Rhizopora sp.), Kayu Galam (Melaleuca cajuputi), Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri), Meranti (Dipterocorpus spesi), Panggang pulantan, Api-api (Avicennia alba), Warn tancang, Belangiran (Shoreabelangeran), Jambu (Eugenia sp.), Nipah (Nypa fruticans), Bakung piai (Crinum asiaticum), Jeruju (Acanthus ilicifolius), Rambai (Baccaurea motleyana), danPandan (Pandanus sp.). Tanaman ini jua akan menjadi tanaman peneduh dan dapat bernilai ekonomis bagi masyarakat.

 

Pada akhirnya, tata kelola sungai tidak akan terjadi apabila tidak ada perubahan cara pandang, prilaku/ tindakan serta cara mengambil keputusan yang tepat. Mengagas revolusi mental untuk budaya sungai bagi masyarakat harusnya inheren bersama membangun kota. Diskusi perubahan tingkah laku pelihara sungai harus menjadi kebiasaan, panderan di getek-getek, di warung, dikantor-kantor hingga semua pihak terlibat. Pemkot jua bersedia menerima masukan dari masyarakat dan memfasilitasi gagasan masyarakat. Gerakan Sugih kita barataan kalo sungainya terpelihara, dapat menjadi agenda revolusi mental iniHanya ada dua pilihan untung dan buntung. Siapa yang untung dan buntung pada gerakan ini? 

 

Kelompok yang untung duluan adalah masyarakat dan Pemkot Banjarmasin, sebab  telah merekayasa dan membuat sungai menjadi penampung air yang sangat banyak sehingga tidak kebanjiran pada saat musim hujan dan tidak kekeringan pada musim kemarau. Kekhawatiran musim banjir, harta benda bahkan nyawa bisa melayang karena musibah yang bisa datang tiba-tiba ini, seperti banjir di Jakarta. Pada musim kemarau, air bersih sulit diperoleh, PDAM macet akibatnya biaya besar membeli air bersih tidak terbendung. Apabila sungai terkelola maka banyak pendapatan yang bisa dihemat dan dapat digunakan untuk berinvestasi ataupun usaha lainnya sehingga pendapatan keluarga meningkat, sugih kita barataan.

 

Kelompok yang buntung, adalah kelompok yang pasif-introvert-defensif atau mereka yang tidak mau terlibat, hanya menjadi penonton, pengeluh dan tidak mendapatkan benefit sharing(penerima manfaat). Pada saat musim banjir akan berteriak keras karena kebanjiran paling depan minta bantuan, dan pada musim kemarau akan protes dan mengancam, mengumbar kemarahan karena kekurangan air, akibatnya runtuhnya nilai kepercayaan dan kebersamaan dalam masyarakat. Para sosiolog menyematkan istilah pada kelompok ini yaitu masyarakat dengan penuaan dini akut (early aging habitual) atau tua sebelum waktunya. Untuk itu saatnyamenggerakan segenap kemampuan menata sungai menggunakan teknologi ramah lingkungan, menata pikiran dan tindakan dengan revolusi mental, agar sugih kita barataan mun sungainya terkelola. 

 

Penulis

Sri Naida, SSi, MPA

Domisili : Jl. Golf Raya Komp D’Mahatama A-10, Banjarbaru

No Hape : 0811 500 9785

Email : sri_naida@yahoo.co.id

Organisasi:  Seknas Jokowi Kalsel, Alumni Fak. Biologi UGM Jogjakarta, Sekum IKAPRI

 

0 komentar:

Google+ Followers