">

Sabtu, 25 Juli 2015

Mengapa borong partai bisa terjadi ?

Aksi borong partai untuk maju di pilkada betulkah itu malapetaka bagi demokrasi di Indonesia ?

Tadi pagi ketika saya sampai di kantor dan baca sebuah koran harian terkemuka di Kalimantan Selatan. Dihalaman depan ada tulisa n aksi borong partai dari salah seorang bakal calon Gubernur Kalimantan Selatan. Dalam tulisan itu disebutkan ada 7 partai atau lebih yang diduga telah diborong sang bakal calon. Uniknya lagi hal tersebut menurut si penulis adalah malapetaka bagi demokrasi di Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan mengapa  partai bisa di borong ? Untuk menjawabnya mungkin metodologi dagang yang harus kita gunakan. Sebab, barang dagangan adalah hal yang bisa di borong. Artinya,Partai itu bisa dibeli dengan uang sehingga aksi borong dapat terjadi.

Mungkin yang terjadi saat ini adalah partai itu sedang berjualan secara borongan. Tetapi yang jelas menurut dugaan saya, aksi borong partai memang tidak baik bagi sistem demokrasi,sebab kalau diborong semua,maka tidak perlu lagi ada pemilihan kepala daerah atau pilkada. Hal itu dapat dikatakan duit bisa membeli demokrasi

Prilaku elit partai sangat besar dampaknya bagi iklim demokrasi. Jika para elit yang punya hak menentukan bakal calon mana yang diusung, maka itulah yang pantas diduga bisa menjual dan dibeli.

Idealnya dalam pilkada itu partai yang melamar figur potensial untuk mau menjadi kepala daerah, bukan sebaliknya. Kalau yang sekarang para calon yang disuruh melamar,sehingga aksi borong partai bisa terjadi.


0 komentar:

Google+ Followers