">

Kamis, 23 Juli 2015

Bupati Banjar Hadiri Manakib Haul Datu Kalampayan Ke- 209

KBRN, Martapura : Haul Datu Kalampayan Atau Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjari  Ulama Besar Di Tanah Banjar, Kalimantan Selatan Dihadiri Puluhan Ribu Kaum Muslimin Dari Berbagai Daerah Berlangsung Dengan Khidmat Dan Lancar.

Kampung Dalam Pagar Martapura, dipadati puluhan ribu kaum muslim, yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah,dan Kalimantan Timur yang mengikuti Haul Almarhum Syekh Muhammam Arsyad Al- Banjari atau yang lebih Populer disebut Datu Kalampayan, Rabu ( 22/7/2015 ).

Sejak pagi diperkirakan  puluhan ribu kaum muslimin sudah memenuhi kawasan Masjid Jami' Tuhfaturroghibin di Desa Dalam Pagar Ulu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tempat pusat peringatan haul ke-209 Almarhum Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, salah satu ulama terbesar di Kalimantan Selatan atau sejak berdirinya Kerajaan Banjar.

Bupati Banjar Sultan H Khairul Saleh, setiap tahun pada Haul Datu Kalampayan maupun Haul Guru Sekumpul selalu hadir, meskipun ditengah kesibukkannya sebagai Kepala daerah dan agenda politik jelang Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan. Hal itu selain karena ia sangat menghargai para alim ulama, juga karena para ulama besar tersebut memang berada di Kabupaten Banjar, tempat ia memimpin sebagai Bupati dalam 10 tahun terakhir.

Kemudian Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Aripin, yang juga mantan Bupati Banjar selalu hadir dalam hampir setiap kegiatan keagamaan,tidak terkecuali, Haul Datu Kalampayan dan Haul Guru Sekumpul. Rudy Aripin juga sangat dikenal oleh para alim ulama di Kota Martapura yang berjulukan sebagai Kota Serambi Mekkah tersebut.


Selain itu terlihat juga hadir pada Haul Datu Kalampayan ke -209 ,yakni Kapolda Kalimantan Selatan Brigjen Pol Agung Budi Maryoto, Danrem 101 Antasari Kolonel Inf Muhammad Abduh Ras dan para undangan lainnya.

Sementara itu, Haul Datu Kalampayan di awali dengan pembacaan Maulid Al Habsyi, dilanjutkan dengan pengajian ayat suci Alquran,sambutan - sambutan , pembacaan Manaqib Datu Kelampayan, pembacaan Surah Yasin, Tahlil, dan Doa.

" Kita semua banyak mengambil petunjuk, apa yang ditulis Datu Kalampayan dalam kitab- kitab karya beliau,seperti Kitab Sabilal Muhtadin yang sampai sekarang tetap dipakai para ulama sebagai acuan dalam membimbing umat," kata Gubernur Rudy Aripin seusai haul tersebut .

Pada pembacaan riwayat  (manakib) disebutkan, Datu Kelampayan bernama Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Hidup dua abad yang silam, dimasa Kesultanan Banjar. Dalam manaqibnya dituturkan, beliau dilahirkan pada malam Kamis 15 Shafar 1122 H atau 19 Maret 1710 M di Kampung Lok Gabang, sebuah desa yang terletak di wilayah Kabupaten Banjar yang sekarang masuk wilayah Kecamatan  Astambul.

Ayahnya bernama Abdullah dan Ibunya bernama Aminah, sama persis dengan nama ayah dan ibu Rasulullah. Ayahnya merupakan seorang pekerja di lingkungan istana dan merupakan kesayangan sang Sultan. Datu Kelampayan lahir dari keluarga yang tergolong taat beragama.

Beberapa sumber menyebutkan, hubungannya dengan Kesultanan Banjar terjadi pada waktu ia berumur sekitar 30 tahun. Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh sultan.
Setelah lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Di masa inilah Sultan Tahmidullah II meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjari  agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (fiqih), yang kemudian dikenal dengan nama Kitab " Sabilal Muhtadin ".

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan menyiarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah Banjar selama 41 tahun, dan akhirnya tepat pada 6 Syawal  1227 H/1812 M, beliau wafat di rumah beliau di Dalam Pagar Martapura dalam usia 105 tahun dalam perhitungan Hijriah, dan 102 tahun menurut perhitungan Masehi, dan  sesuai dengan wasiat beliau, Ia dimakamkan di Desa Kelampayan, Astambul, Martapura.

Kitab Karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling dikenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin littafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat untuk mendalami urusan-urusan agama". Selain itu, Syekh Muhammad Arsyad  Al- Banjari juga telah menulis beberapa kitab untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, diantaranya kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Dua Puluh, Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas tentang wanita serta tertib suami-istri, dan Kitabul Fara-idl, semacam hukum perdata.

0 komentar:

Google+ Followers