">

Sabtu, 11 April 2015

Penambang Batu Akik Red Borneo Resah



Excavator Jamah Batu Red Borneo di Gunung Pamaton

MARTAPURA - Pesona Batu Red Borneo (Merah Borneo) benar-benar membius semua pihak. Beragam cara dilakukan untuk
mendapatkannya dari cara tradisional (manual) hingga modern menggunakan excavator.
Apapun cara mendapatkannya harus memperhatikan dampak lingkungan maupun dampak sosialnya bagi masyarakat sekitar.
Misalnya, Udul (31), dan puluhan warga Kampung Kiram Atas RT 3, Kecamatan Karang Intan terpaksa menghentikan aktifitasnya menambang
batu Merah Borneo di sekitar Gunung Pait sejak empat hari lalu.

Pasalnya, kata udul, pihak perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP) Batu Mangan yang sudah bertahun-tahun tak beroperasi,
mendatangkan sebuah alat berat dengan pengawalan aparat kepolisian dari satuan Brimobda Kalsel dan Polsek Cempaka, Banjarbaru, Minggu (5/4) lalu.

Alat berat jenis excavator tersebut, katanya, digunakan untuk mengeruk dan mencari batu Merah Borneo yang ada di dalamnya. “Pemilik ijin
kuasa pertambangannya adalah PT Imut. Informasi yang tersebar, ijinnya akan habis bulan Oktober ini,” ujarnya, Rabu (8/4).

Sejak datangnya alat berat dengan pengawalan aparat kepolisian itu, sebutnya, warga dilarang masuk untuk mencari batu Merah Borneo.
“Untuk sementara ini di rumah ai dahulu,” ujarnya.
Penambangan batu Merah Borneo menggunakan alat berat, dikhawatirkan warga akan berdampak pada penghasilan warga sekitar yang selama ini
menggantungkan hidup dari hasil penambangan batu.

Menurut warga, perusahaan juga telah menyalahi aturan. Karena ijin perusahaan adalah penambangan Batu Mangan, bukan Merah Borneo. “Sampai
saat ini, ijin penambangan batu Merah Borneo kan belum ada,” ucapnya.

Udul dan puluhan warga lain berharap, aktifitas penambangan batu Merah
Borneo menggunakan alat berat dihentikan saja. Karena jika tidak, warga mengancam akan memblokade jalan agar truk-truk pengangkut batu tak
dapat lewat lagi.

Sementara itu, Kabid Pengawasan pada Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar, Sufrianto  menegaskan, pihaknya sama sekali tidak mengijinkan pertambangan batu Merah Borneo di kawasan hutan.
Aktivitas penambangan illegal yang berada di lokasi Kawasan Hutan, ujarnya, adalah melanggar pasal 158 UU No 04 Tahun 2009, tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
"Akan dilakukan larangan terhadap aktivitas penambangan illegal secara tertulis yang disampaikan kepada Pembakal Kiram yang ditembuskan ke Camat Karang Intan dan Tanda Larangan melalui papan nama," katanya.

Terpisah, Rubaini Camat Karang Intan saat dikonfirmasi mengatakan telah mengetahui adanya alat berat yang didatangkan ke Desa Kiram.
Untuk itu, ia mengatakan akan segera turun ke lokasi untuk memastikan dan mencari solusi permasalahan tersebut.
"Siang tadi staf saya dan staf Dinas Pertambangan cekbke lapangan. Jadi kita tunggu saja laporannya," kata Rubaini singkat saat dihubungi sedang di luar kota.



Posted via Blogaway


2 komentar:

Google+ Followers