">

Senin, 16 Maret 2015

DEMAM BATU SEMI PERMATA " RED BORNEO "


Demam Batu untuk dijadikan perhiasan seperti untuk mata cincin dan lainnya saat ini sedang mewabah di Indonesia. Diberbagai tempat saat ini ramai masyarakat melakukan penambangan batu tersebut, bahkan di Aceh dan Manado diberitakan warga ,menemukan batu giok dengan ukuran besar bahkan beratnya mencapai puluhan ton. 

Di Kalimantan Selatan juga dihebohkan dengan temuan batu yang berwarna hijau dan abu - abu yang terhampar hingga satu kilometer di Desa Martadah, Kecamatan Tambang Ulang Kabupaten Tanah laut. Batu yang ditemukan ini sempat diduga sebagai batu giok, tetapi hasil laboratorium di Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia / LPSBM di Kabupaten Banjar menyatakan batu tersebut bukan Giok.

Demam Batu juga terjadi Di daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Intan, yakni Kota Martapura di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Bahkan Demam Batu di Daerah ini direspon positif Pemerintah Kabupaten Banjar dengan mengajurkan kepada Kepala SKPD atau Pejabat untuk menggunakan Batu Cincin Khas Daerah setempat yang disebut sebagai Batu Red Borneo.

" anjuran itu dimaksudkan agar masyarakat makin mengenal Batu Red Borneo sebagai batu Khas Kabupaten Banjar dan untuk meningkatkan usaha kreatif masyarakat,khususnya para pengrajin dan penggosok batu," kata Bupati Banjar Sulatan Khairul Saleh ( 13/03/2015). 

Semenjak ada anjuran agar Para Pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Banjar, maka semakin banyak masyarakat yang memburu batu akik Jenis Red Borneo ini dan bahkan harganya menjadi cukup tinggi bergantung motif dan ukuran.

Batu akik Red Borneo banyak didapat di Wilayah Kabupaten Banjar ,khususnya di Kecamatan Karang Intan di Sekitar Gunung Pamaton. Akibat di daerah ini banyak warga yang menambang secara tradisional untuk mendapatkan batu Red Borneo. 

Menurut Ahli Geologist Dan Gemologist dari LPSBM Heru Kurniawan, bahwa batu Akik Red Borneo termasuk jenis Batu Semi Permata karena berdasarkan unsur yang membentuknya.


0 komentar:

Google+ Followers