">

Sabtu, 28 Februari 2015

POLRES SEGERA PANGGIL ISTRI BUPATI NUNUKAN TERKAIT ALIRAN DANA KORUPSI

Penyidik Polres Nunukan segera memanggil Irma Irawati Basri, istri Bupati Kabupaten Nunukan H. Basri untuk mengungkap aliran dana hasil korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan.

Kapolres Nunukan AKBP Christian Tory SIK mengatakan, Irma Basri akan diperiksa sebagai saksi karena namanya disebut Direktur PT Cappana 27, Amal Mashur, dalam kasus dugaan korupsi kegiatan Pengadaan Buku Pengayaaan, Referensi dan Panduan Pendidik untuk SD/SDLB tahun 2012.

“Yah nanti dalam waktu dekat. Mudah-mudahanlah segera (diperiksa), supaya persoalan ini bisa clear ujarnya’’.

Sebelumnya, Amal mengakui ada aliran dana hasil korupsi kepada pejabat di Nunukan. Dari informasi dimaksud, Polisi melakukan pengusutan dengan memeriksa sejumlah saksi-saksi.

Christian Tory mengatakan, Irma Basri diperiksa sebagai saksi, karena dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap Amal diketahui Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan itu pernah melakukan kegiatan ke Batam, saat acara pernikahan Amal.

“Keberadaan beliau di sana, dengan Ibu Nizar terkait dengan aliran dana di Batam,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh penyidik, Irma dan Femmy Nurhayati, istri mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Nizaruddin sempat melakukan perjalanan ke Singapura, di sela menghadiri pernikahan Amal di Batam.

“Pertemuan di Singapura mau didalami, sampai sejauh mana keterkaitan pihak-pihak terkait dengan tersangka (Amal)” ujarnya.

Kapolres berpendapat, Irma Basri harus secepatnya diperiksa agar tidak menimbulkan tanda tanya di masyarakat. Apalagi soal aliran dana hasil korupsi itu ke pejabat di Kabupaten Nunukan, telah menjadi isu yang seksi dimasyarakat.

“Kita tuntaskan dengan profesional. Kalau ada yang salah diproses. Daripada jadi tanda tanya. Kita lihat fakta-faktanya, nanti kan terungkap? Kita lihat hasil pemeriksaannya. Tentu saya, dalam hal ini pengen juga supaya persoalan ini kita tuntaskan secepatnya, agar jangan sampai timbul pertanyaan,” ujarnya.

Sebelumnya dalam kasus tersebut, Polisi juga telah memeriksa Femmy Nurhayati, Senin (23/2/2015). Calon anggota legislatif DPRD Kabupaten Nunukan dari Partai Demokrat Daerah Pemilihan I itu diperiksa penyidik hingga pukul 16.30.

“Bu Nizar saksi terkait proses aliran dana. Artinya kan kita mau mengejar aliran dana itu. Makanya otomatis orang yang paling dekat istrinya,keluarganya,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Christian, banyak pointer yang bisa digali dari Nizaruddin. “Kendalanya, tersangka meninggal dunia. Pointer keterangan beliau diharapkan untuk meluruskan,” ujarnya.

Dia menegaskan, pemeriksaan Femmy yang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan Irma Basri, didasarkan pada bukti-bukti dan fakta yang telah dimiliki Polisi.

“Kita memeriksa berdasarkan bukti, berdasarkan fakta. Kalau namanya tidak disebutkan, tidak ada lalu diperiksa, itu nanti malah kriminalisasi. Nanti fakta-fakta disebutkan, nanti kita tindaklanjuti. Target kami mengejar uang itu, target kami mengembalikan kerugian negara yang ditimbulkan oleh korupsi. Fokus kita kemana lari uangnya?” ujarnya.

Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap Femmy, Polisi telah mendapatkan fakta baru. Soal fakta-fakta dimaksud, Kapolres enggan menyebutkannya. Christian juga memastikan, penyidik telah mendapatkan rekening koran dari Bank.

“Mungkin akan kita panggil pihak bank untuk menjelaskan,” ujarnya.

Dia mengatakan, pemanggilan dan pemeriksaan saksi-saksi ini diharapkan bisa meluruskan dan menuntaskan kasus tersebut, untuk menegaskan siapa saja yang terlibat.

“Kalau tidak bisa dibuktikan, kita tidak bisa paksakan. Kiblatnya bukti, fakta, jangan omongan tanpa fakta. Itu namanya fitnah,” katanya.

Amal setahun belakangan ini menjadi buronan Polres Nunukan. Dia selalu berpindah dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Selama sebulan belakangan ini Polisi membuntutinya melalui operasi rahasia.

"Saya tidak menyampaikan kemana-mana, karena kalau bocor ini semakin liar. Makanya saya operasinya secara tersembunyi dan rahasia," ujar Kapolres.

Pelarian Amal berakhir saat dia ditangkap di kediaman mertuanya Perumahan Kurnia Daya Abadi, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2015) dinihari.

Perusahaan milik Amal mengerjakan proyek senilai Rp 3.171.924.000, dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN tahun anggaran 2012, sesuai kontrak Nomor 452/409/PPK/SPPP-Pengadaan Buku Pengayaan, Referensi dan Panduan Pendidikan untuk SD/SDLB Disdik V/11/2012, tanggal 5 November 2012.

Selaku kontraktor pemenang kegiatan tersebut, PT Cappana 27 berkewajiban menyalurkan sekitar 114.000 eksemplar buku dengan 900 judul kepada 63 Sekolah Dasar di Kabupaten Nunukan.

Pada kenyataannya, berdasarkan keterangan dan data dari sekolah penerima maupun konsorsium percetakan buku di Makassar yang pernah diperiksa Polisi, pekerjaan yang dilaksanakan hanya sekitar 60 persen.

Padahal anggaran kegiatan tersebut terserap seluruhnya.

Dalam kasus itu Polisi telah menetapkan tujuh tersangka yaitu lima orang Pejabat Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP) masing-masing Taufik, Sri Widodo, Fadli Abdullah, Kusumo Cahyo Baskoro dan Feri Lamma. Serta mantan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Ir Rudi Anggiatno MT selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Ramdan Yusuf. Dua nama terakhir tengah mengikuti proses persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda.(del).

0 komentar:

Google+ Followers