">

Jumat, 27 Februari 2015

Gas Elpiji Di Wilayah Perbatasan Mengandalkan Layanan Dari Malaysia

Sudah sekitar tiga pekan ini warga di Kabupaten Nunukan kesulitan mendapatkan gas elpiji. Kelangkaan ini disebabkan karena terbatasnya pasokan elpiji 12 kg dari Tawau, Sabah, Malaysia. 


Sejak kelangkaan elpiji asal Malaysia, warga justru kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg produksi dalam negeri.

''Mau disuruh pakai apa kita ini masak? Gas tidak ada, minyak langka, masak kita dipaksa memakai kayu api?'' protes Ibu Suwardi. (26/2/2015).


Ibu Suwardi yang merupakan salah satu agen elpiji di Sungai Bolong, Kecamatan Nunukan mengatakan, sejak kelangkaan elpiji asal Malaysia, harga elpiji 12 kg yang biasa dijual Rp.180.000 naik menjadi Rp 220.000 - Rp.250.000. Kelangkaan ini disebabkan karena Malaysia mengawasi ketat keluarnya barang-barang bersubsidi.


Agus, pemilik agen Eka Sari di Kelurahan Nunukan Timur mengaku selama ini pelanggannya kebanyakan merupakan pemilik warung makanan.

''Itulah, kasihan mereka. Gas nggak ada, ya sudah terpaksa ditutup itu warung,'' ujarnya. 


Selain kesulitan mendapatkan elpiji, warga juga mengeluhkan kenaikan harga beras di Kabupaten Nunukan. Sekarung beras seberat 25 kg asal Sulawesi Selatan yang biasanya dijual Rp 190.000 naik menjadi Rp 250.000. Beras asal Malaysia masih lebih murah dijual hanya Rp 210.000 per karung.

Anto salah seorang pedagang beras mengaku menaikkan harga karena dari daerah asal di Sulawesi Selatan, harga beras memang telah naik. (del).

 

0 komentar:

Google+ Followers